Label

Jumat, 14 Oktober 2011

ISLAM PERIODE MEKAH DAN MADINAH



A.   Periode Mekah
I.       Awal Islam di Mekah
Nabi Muhamad SAW adalah anggota bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku Quraisy. Kabilah ini memegang jabatan siqayah. Nabi Muhammad lahir dari keluarga terhormat yang relatif miskin. Ayahnya bernama Abdullah anak Abdul Muthalib, seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya adalah Aminah binti  Wahab dari Bani Zuhrah. Tahun kelahiran nabi dikenal dengan tahun Gajah (570M) Dinamakan demikian, karena pada tahun itu pasukan Abrahah, gubernur kerajaan Habsyi (Ethopia), dengan menunggang gajah menyerbu Makkah untuk menghancurkan Ka’bah.[1]
A.    peristiwa turunya wahyu pertama
Menjelang usianya yang ke 40, dia sudah terbiasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkhalwat di gua hira, bebarapa kilometer di utara kota Mekah. Disana Muhammad mula-mula ber jam-jam kemudian berhari-hari bertafakur. Pada tanggal 17 ramadhan tahun 611 Masehi, malaikat Jibril muncul menyampaikan wahyu Allah yang pertama.
Wahyu pertama yang turun pada nabi muhamad saw di gua hira yaitu surah Al-Alaq ayat 1-5. Setelah turunya wahyu itu nabi Muhammad yang  saat itu jantungnya bernyut, hatinya berdebar-debar ketakutan. Dijumpainya khadijah sambil berkata “Selimuti aku!” Ia segera diselimuti. Tubuhnya menggigil seperti demam. Nabi berkata “Khadijah kenapa aku?” kemudian diceritakan oleh nabi apa yang telah dilihatnya.
Setelah mendengar penjelasan nabi Muhammad seraya Khadijah berkata “O, putra pamanku. Bergembiralah, dan tabahkan hatimu demi dia yang memegang hidup Khadijah, saya berharap kiranya anda akan menjadi nabi atas umat ini. Allah sama sekali tak akan mencemoohkan anda; sebab andalah yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, anda mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar”. Demikianlah sekelumit tentang peristiwa turunya wahyu yang pertama kepada baginda Muhammad SAW.[2]

B.     Dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.
Dalam proses penantian Jibril, turun wahyu yang membawa perintah kepada Rasulullah. Wahyu itu itu berbunyi sebagai berikut : "Hai orang yang berselimut bangun, dan beri ingatlah. Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkan perbuatan dosa dan janganlah engkau memberi ( dengan maksud ) memperoleh ( balasan ) yang lebih banyak dan untuk ( untuk memenuhi perintah ) Tuhanmu bersabarlah" ( Al- Muddatsir 1-7 )
Dengan turunnya perintah itu mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama, beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungannya sendiri, keluarga, dan sahabat-sahabat beliau yang paling dekat. Mereka di seru kepada pokok-pokok agama islam yang disebut dalam ayat-ayat diatas yaitu, bertauhid kepada allah dan meninggalkan ilah dan berhala-berhala yang mereka sembah.
Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah, kemudian saudara sepupunya Ali bin Abi Thalib yang beru berumur 10 tahun. Kemudian Abu Bakar sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Lalu Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Ummu Aiman, pengasuh Nabi sejak ibunya Aminah masih hidup. Banyak orang-orang yang menerima seruan Nabi melalui perantara Abu Bakar. Mereka dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwalun. Mereka ialah Usman bin Affan, Zubair ibnu Awwan, Sa'ad ibnu Abu Waqqas, Abdurrahman ibnu Auf, Talhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah ibnul Jarrah, dan Arqam ibnu Abu Arqam. Rumah Arqam pada saat itu dijadikan tempat pertemuan untuk menyampaikan dakwah islam.[3]
C.     Dakwah secara terang-terangan
Langkah da’wah seterusnya yang diambil oleh nabi Muhammad adalah menyeru masyarakat umum. Nabi mulai menyeru segenap lapisan masyarakat kepada islam dengan terang-terangan, baik golongan bangsawan maupun hamba sahaya. Mula-mula  ia  menyeru penduduk mekah, kemudian penduduk negri-negri lain. Disamping itu, ia juga menyeru orang-orang yang datang ke mekkah, dari berbagai negri untuk mengerjakan haji. Kegiatan dakwah dijalankan tanpa mengenal lelah. Dengan usahanya yang gigih, hasil yang di harapkan mulai terlihat. Jumlah pengikut nabi yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah. Mereka terutama, terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja dan orang-orang yang tak punya. Meskipun kebanyakan mereka oran lemah, namun semangat mereka sungguh membaja.
Menrut Ahmad Sya’labi ada lima faktor yang mendorong orang Quraisy menetang seruan islam:
1.      Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan.
2.      Nabi muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya
3.      Para pemimpin quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitkan kembali dan pembalasan di akhhirat.
4.      Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa arab.
5.      Pemahat dan penjual patung memandang islam sebagai penghalang rezeki.[4]

II.    Perjanjian Hudaibiyyah
Pada tahun 628 M, sekitar 1400 Muslim berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka mempersiapkan hewan kurban untuk dipersembahkan kepada kaum Quraisy. Quraisy, walaupun begitu, menyiagakan pasukannya untuk menahan Muslim agar tidak masuk ke Mekkah. Pada waktu ini, bangsa Arab benar benar bersiaga terhadap kekuatan militer Islam yang sedang berkembang. Nabi Muhammad mencoba agar tidak terjadi pertumpahan darah di Mekkah, karena Mekkah adalah tempat suci.
Garis besar Perjanjian Hudaibiyah berisi : "Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad (SAW) dan Suhail bin 'Amru, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Siapapun yang ingin mengikuti Muhammad (SAW), diperbolehkan secara bebas. Dan siapapun yang ingin mengikuti Quraisy, diperbolehkan secara bebas. Seorang pemuda, yang masih berayah atau berpenjaga, jika mengikuti Muhammad (SAW) tanpa izin, maka akan dikembalikan lagi ke ayahnya dan penjaganya. Bila seorang mengikuti Quraisy, maka ia tidak akan dikembalikan. Tahun ini Muhammad (SAW) akan kembali ke Madinah. Tapi tahun depan, mereka dapat masuk ke Mekkah, untuk melakukan tawaf disana selama tiga hari. Selama tiga hari itu, penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Mereka haruslah tidak bersenjata saat memasuki Mekkah"
Manfaat Perjanjian Hudaibiyah bagi kaum Muslim adalah :
  • Bebas dalam menunaikan agama Islam
  • Tidak ada teror dari Quraisy
  • Mengajak kerajaan-kerajaan luar seperti Ethiopia-afrika untuk masuk Islam[5]
III. Perjanjian (Bai’at)  Aqabah I dan II
Bai'at 'Aqabah I (621 SM) adalah perjanjian Muhammad dengan 12 orang dari Yatsrib yang kemudian mereka memeluk Islam. Bai'at 'Aqabah ini terjadi pada tahun ke-12 kenabiannya. Kemudian mereka berbaiat (bersumpah setia) kepada Muhammad. Isi baiat itu ada tiga perkara:
  • Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.
  • Melaksanakan apa yang Allah perintahkan.
  • Meninggalkan apa yang Allah larang.
Muhammad mengirim Mush’ab bin ‘Umair dan ‘Amr bin Ummi Maktum ke Yatsrib bersama mereka untuk mengajarkan kepada manusia perkara-perkara Agama Islam, membaca Al Qur'an, shalat dan sebagainya.[6]
Bai'at 'Aqabah II (622 SM) adalah perjanjian yang dilakukan oleh Muhammad terhadap 73 orang pria dan 2 orang wanita dari Yatsrib. Wanita itu adalah Nusaibah bintu Ka’ab dan Asma’ bintu ‘Amr bin ‘Adiy. Perjanjian ini terjadi pada tahun ketiga belas kenabian. Mush’ab bin ‘Umair kembali ikut bersamanya beserta dengan penduduk Yatsrib yang sudah terlebih dahulu masuk Islam.
Mereka menjumpai Muhammad di ‘Aqabah pada suatu malam. Muhammad datang bersama pamannya Al ‘Abbas bin ‘Abdil Muthallib. Ketika itu Al ‘Abbas masih musyrik, hanya saja ia ingin meminta jaminan keamanan bagi keponakannya Muhammad, kepada orang-orang Yatsrib itu. Ketika itu Al ‘Abbas adalah orang pertama yang angkat bicara kemudian disusul oleh Muhammad yang membacakan beberapa ayat Al Qur'an dan menyerukan tentang Islam.
Kemudian orang-orang Yatsrib itu membaiat nabi Muhammad. Isi baiatnya adalah:
  • Untuk mendengar dan taat, baik dalam perkara yang mereka sukai maupun yang mereka benci.
  • Untuk berinfak baik dalam keadaan sempit maupun lapang.
  • Untuk beramar ma’ruf nahi munkar.
  • Agar mereka tidak terpengaruh celaan orang-orang yang mencela di jalan Allah.
  • Agar mereka melindungi Muhammad sebagaimana mereka melindungi wanita­-wanita dan anak-anak mereka sendiri.
Setelah baiat itu, Muhammad kembali ke Makkah untuk meneruskan dakwah. Kemudian ia mendapatkan gangguan dari kaum musyrikin kepada kaum muslimin yang dirasa semakin keras. Maka Muhammad memberikan perintah kepada kaum muslimin untuk berhijrah ke Yatsrib. Baik secara sendiri-sendiri, maupun berkelompok. Mereka berhijrah dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kaum musyrikin tidak mengetahui kepindahan mereka.
Pada waktu itu, orang pertama yang berhijrah adalah Abu Salamah bin ‘Abdil Asad dan Mush’ab bin ‘Umair, serta ‘Amr bin Ummi Maktum. Kemudian disusul oleh Bilal bin Rabah Sa'ad bin Abi Waqqash, Ammar bin Yasir, dan Umar bin Khatthab berhijrah. Mereka berhijrah di dalam rombongan dua puluh orang sahabat. Tersisa Muhammad, Abu Bakr, ‘Ali bin Abi Thalib dan sebagian sahabat.[7]
B.   Periode Madinah
I.   Islam di Madinah
Setalah tiba dan diterima penduduk Yastrib ( Madinah ), Nabi resmi menjadi pemimpin penduduk kota itu. Babak baru dalam sejarah Islam pun dimulai. Berbeda dengan periode Mekkah, periode Madinah, Islam, merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Nabi Muhammad mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala Negara. Dengan kata lain, dalam diri Nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan duniawi. Kedudukannya sebagai Rasul secara otomatis merupakan sebagai Kepala Negara. Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan Negara baru itu, nabi segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat.
-          Dasar pertama, pembangunan Masjid, selain untuk tempat shalat, juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum Muslimin dan mempertalikan jiwa mereka. Masjid pada masa Nabi juga berfungsi sebagai pussat pemerintahan.
-          Dasar kedua, Ukhuwah Islamiah, persaudaraan sesama musllim. Nabi mempersaudarakan golongan Muhajirin dengan Anshor. Ini berarti menciptakan suatu bentuk persaudaraan yang baru yaitu persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan beersasarjan darah.
-          Dasar ketiga, hubungan persahabatan sengan pihak-pihak lain yang tidak beragama islam. [8]
-                       
I.   Piagam  Madinah
Piagam Madinah adalah Perjanjian Dasar Negara. Isinya yaitu :
  1. Kelompok masing-masing berhak menghukum orang yang membuat kerusakan dan memberikan keamanan bagi orang yang patuh
  2. Kebebasan beragama terjamin untuk semua kelompok
  3. Menjadi suatu kewajiban bagu penduduk madinah muslim dan yahudi untuk salaing membantu dan menolong
  4. Saling mengadakan kerja sama dengan mempertahankan Negeri Madinah dari segala serangan
  5. Rasulullah menjadi pemimpin tertinggi di negeri Madinah, segala perkara dan perselisihan besar diserahkan kepada beliau untuk memutuskannya.


KESIMPULAN

Sangat besarlah jasa baginda nabi Muhammad saw kepada kita. karena beliau telah  menyelamatkan kita umat islam dari kesesatan, dan kejahiliyahan. Sebagai nabi dan rasul beliau mempunyai kepribadian yang mulia, lemah lembut, berbudi pekerti yang luhur luhur, dan tegas. Sebagai kepala, pemimpin rumah tangga beliau sangatlah adil dan bijaksana dalam keseharian beliau. Sebagai pemimpin negri beliau adil dan bijaksana dalam menghadapi umatnya dan mau mendengarkan pendapat serta permintaan orang lain.Dan sebagai pemimpin umat beliau aadalah orang yang sangat penyayang. Beliau selalu memikirkan umat beliau. Bahkan hingga akhir hayat beliau.

Begitu keras kerja keras beliau dalam membangun islam, dan dengan bantuan sahabat-sahabat beliau hingga akhirnya islam tersebar di seluruh penjuru dunia.

Dan dalam perjalanan sejarah beliau terdapat banyak rintangan-rintangan dari kaum kafir, baik itu dari kaum Quraisy, Yahudi, Nasrani, dan lainya.























DAFTAR PUSTAKA

           
Haekal, Muhammad Husein. 2007. diterjemahkan oleh Ali Audah, Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera AntarNusa.
Yatim, Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II. Jakarta: RajaGrafindo.

http://ari2abdillah.wordpress.com/ Siroh: Dakwah Periode Mekah (1)

http://hitsuke.blogspot.com/Masa Nabi Muhammad SAW pada periode Mekah dan Madinah.






[1] Badri yatim, Sejarah Peradaban Islam, dirasah islamiyah II (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2008) hlm,16
[2] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerjemah : Ali Audah, terbitan ke tiga puluh, Desember, 2007,hlm.

[3]http://ari2abdillah.wordpress.com/ Siroh: Dakwah Periode Mekah (1)                                                                 -http://hitsuke.blogspot.com/Masa Nabi Muhammad SAW pada periode Mekah dan Madinah.


[4] Badri yatim, Sejarah Peradaban Islam, dirasah islamiyah II (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2008) hlm,20-21


[8] Badri yatim, Sejarah Peradaban Islam, dirasah islamiyah II (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2008) hlm,25-26.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar